Travel Tips = Pertolongan Pertama Saat Traveling

Diposkan oleh Andri Ansyah on Rabu, 24 April 2013

Beberapa tahun yang lalu, saya pernah dalam demam namun saya putuskan tetap berangkattraveling. Dengan kondisi demam saya menuju Pangandaran dengan kereta ekonomi. Hari pertama demam dihabiskan di kereta, terjaga semalaman karena ributnya kereta ekonomi. Hari kedua saya pikir akan membaik, ternyata lebih parah. Saya makin demam dan lemas, tidur-tiduran di penginapan dan minum obat a la kadarnya. Hari ketiga saya sudah gelap, oleh 2 teman, saya dibawa ke Purwokerto, 6 jam perjalanan dari Pangandaran. Masuk rumah sakit dengan kondisi sudah lemas, panas tubuh sudah 39,5 derajatcelcius, kata dokter andaikata telatsedikitdatang dan panastubuh makin tinggi, otaksaya yang jadi korbannya. Setelah serangkaian tes ternyata trombosit saya sudah anjlokdi angka 60.000, positif demam berdarah dan harus bed rest seminggu.

Dari kisah tersebut, saya ternyata sudah kena DBD sejak hari pertama sampai hari ketiga saattraveling. Dan pada saat itu tanpa penanganan yang cukup, tidak kedokter dan hanya minum obat sekenanya. Untungnya saya masih tertolong dan bisa mencapai rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Dari pengalaman tersebut saya sekarang berusaha mempersiapkan diri dengan baiksebelum memulai traveling, karena saya/kita semua tidak akan tahu apa yang akan terjadi di perjalanan nantinya. Berikut beberapa tips dari saya yang mungkin bisa berguna :

1. Kenalilah Kondisi Diri Sendiri

Hal paling penting sebelum traveling adalah dengan mengenali kondisi diri sendiri, jika dirasa sudah tidakfit atau kesehatan terganggu atau gejala-gejala sakit, lebih baik pikir ulang rencana trip atau traveling anda. Bisa jadi traveling justru memperburuk kondisi kesehatan seseorang. Jangan memaksakan diri, traveling dalam kondisi tidak fit justru tidak akan maksimal. Ingat, kesehatan diri lebih penting daripada sekedar traveling.

2. Perlengkapan P3K Yang Cukup

Mencegah lebih baikdaripada mengobati, itu prinsip yang saya pegang. Melakukan persiapan yang cukup untuk mengantisipasi kejadian saat traveling. Untuk itu dalam tastraveling saya, selalu ada satu set obat-obatan yang lengkap, baik obatdalam atau obat luar. Susunan obat-obatan sayaterdiri dari obatperut, obat demam, obatbatuk, obat tidur, obat luka, alkohol, hand sanitizer dan minyak angin. Selain itu saya juga membekali diri dengan kassa, plester dan kain segitiga untukpertolongan pertama jika sewaktu-waktu ada fraktur. Kain segitiga seukuran hasduk pramuka, terkadang saya samarkan untukasesoris, saat acara #wegohangoutkemarin, kain segitiga tersebut saya samarkan jadi arm-band. Perlengkapan P3K ini sudah menjadi barang bawaan wajib bagi saya. Jika kesulitan untukmenyusun perlengkapan P3K, sekarang di beberapa supermarket besar sudah dijual tas P3K lengkap dengan isinya.

3. Mapping Lokasi

Sebelum menuju lokasi traveling, saya biasanya searching lokasi rumah sakit/puskesmas terdekat dari tempat tersebut, jadi ketika membutuhkan layanan kesehatan /evakuasi dengan cepat, saya tahu harus kemana.

4. Kenali Gejala

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi gejala. Gejala berupa pusing, demam, lemas adalah gejala awal tubuh mengalami gangguan. Kita perlu mengenali gejala-gejala tersebut agar tahu tindakan selanjutnya apa yang kita lakukan. Untukgejala khusus seperti benturan, kita perlu memisahkan apakah terjadi fraktur, atau hanya benturan biasa. Untuk fraktur, biasanya disertai demam / bahkan sampai pingsan, untuk benturan biasa hanya berbentuklebam biasa.

5. Teknik Pertolongan Pertama

Teknik pertolongan pertama menyumbang keberhasilan pada keberhasilan penanganan berikutnya. Seorang traveler ada baiknya tahu dan mengerti teknik P3K, jadi ketika menghadapi kejadian yang membutuhkan P3Kmaka tidakpanik, tahu cara bersikap dan bertindakkemudian bisamenyelematkan dan mengevakuasi korban.

Beberapa dasar P3K adalah teknik pengenalan dasar, Resusitasi Jantung dan Mulut, penanganan terhadap luka, fraktur dan pembebatan. Teknik P3K cukup mudah untukdipelajari, jika ingin belajar bisa menghubungi PMI, secara berkala PMI mengadakan pelatihan teknik P3K untukumum atau untuk pengenalan apa itu P3K, bisa mendownload slidetentang pengenalan P3K disini.

6. Evakuasi

Proses terakhir dimana korban bisa mendapatkan pertolongan medisyang lebih baik. Jika traveler bukan orang medis atau mengerti dasar-dasar medismaka tindakan terbaikyang dilakukan setelah melakukan P3K adalah membawa korban secepatmungkin ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan dengan cepat. Sebaiknya evakuasi dilakukan dengan cepat dan tepat, namun jika korban mengalami keadaan khusus, seperti fraktur atau tempat yang sulit atau kondisi tidak memungkinkan evakuasi. Maka evakuasi diperlukan dengan teknik khusus , yang bisa dilakukan adalah menghubungi RS/pihakterkaitsetempat untuk minta pertolongan evakuasi, sementara korban harus dijagaagar tetap sadar serta tandai luka pada korban untukdisampaikan pada tenaga medis.

Itu tadi beberapa tindakan penting yang bisa dilakukan jika terjadi musibah saat traveling. Jangan lupa berdoa sebelum traveling agar perjalanan lancar tanpa hambatan apapun. Prinsip yang harus diingatadalah selamatkan diri sendiri sebelum menyelamatkan orang lain dan jangan bersikap sok tahu dalam penanganan korban. Tenaga medislah yang lebih mengerti penanganan terhadap korban.

Intisari tulisan ini berdasar pengalaman pribadi saya dan apa yang saya dapat ketika aktif dalam Palang Merah Remaja serta 2 kali Diklatsar. Untuk lebih lanjutmengenai P3K, bisa menghubungi PMI atau mengikuti diklatsar yang sering diadakan oleh komunitas SAR ataupun organisasi pecinta alam.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Jika Anda Menyukai Artikel Ini, Silahkan Komentari Dengan Sopan dan Santun :

Jika Anda Menyukai Artikel Ini Mohon Klik LIke Di Bawah Ini :

komentar: