Ajaran dan pandangan Niccolo Machiavelli

Diposkan oleh Andri Ansyah on Kamis, 18 April 2013

Oleh sebab itu orang seharusnya berjuang dengan menggunakan kekuasaan dan kekerasan seperti binatang-binatang dan tidak menggunakan hokum. Seorang raja harus dapat menjadi binatang, yang merupakan kancil dan singa sekaligus. Merupakan kancil, supaya ia tidak terjerat dalam jarring-jaring orang lain dan merupakan singa supaya ia tidak gentar menghadapi raung srigala”. Demikianlah antara lain kata-kata Niccolo Machiavelli, seorang ahli berkebangsaan Italia yang hidup pada tahun 1469-1527. Ia menulis sebuah buku yang terkenal yaitu II Principe artinya sang raja atau buku pelajaran untuk sang raja.
Dalam buku tersebut dijelaskan tentang pedoman dan tuntunan bagi sang raja dalam menjalankan pemerintahannya.Selain itu diterangkan pula tentang azaz-azas moral dan kesusilaan dalam susunan ketatanegaraan. Pandangan Machiavelli tersebut didasarkan pada suasana kebathinan yang terjadi di Italia pada saat itu yang sedang mengalami kekacauan dan perpecahan, Machiavelli menginginkan terbentuknya zentral gewalt (system pemerintahan sentral) dengan tujuan agar keadaan Negara menjadi tentram kembali.
Selain itu Inti dari ajaran Machiavelli sebagai seorang ahli pemikir besar pada masa jaman renaissance tentang tujuan Negara adalah mengusahakan terselenggaranya ketertiban, keamanan dan ketentraman dan untuk mencapai tujuan tersebut seorang raja harus mempunyai kekuasaan yang absolute dan Negara harus mengejar tujuan dan kepentingannya dengan cara-cara yang paling tepat bahkan bila perlu dengan cara yang sangat licik sekalipun, untuk itu ajaran Machiavelli menekankan dilepasnya pemikiran-pemikiran moral dan kesusilaan dalam konteks azas-azas kenegaraan. Machiavelli berpendapat bahwa arah mendapatkan dan menghimpun kekuasaan yang sebesar-besarnya di tangan raja dengan cara-cara licik dan absolute hanya merupakan sarana karena tujuan akhir yang lebih tinggi adalah kemakmuran bersama.
Tentang kenapa Machiavelli memisahkan antara azas moral kesusilaan dan azas kenegaraan adalah karena menurutnya moral dan kesusilaan adalah das sollen atau sesuatu yang diharapkan sedangkan kenegaraan adalah das sein atau suatu kenyataan. Menurutnya lagi antara das sollen dan das sein adalah selalu berbeda, karena antara harapan dan kenyataan dalam kehidupan yang sebenarnya terdapat perbedaan besar atau dengan kata lain antara sesuatu yang dikatakan tidak selalu sama dengan apa yang diperbuatnya.
Walaupun demikian, dalam pandangan Machiavelli terdapat pro dan kontra dari ahli pemikir Negara yang lain, misalnya van schmid, ia mengatakan bahwa ajaran Machiavelli bukan kurang tepat menggambarkan kenyataan dan telah menentukan cara bertindak yang salah akan tetapi Machiavelli telah menolak ajaran yang oleh jaman pertengahan dianjurkan pada umat manusia sebagai cita-cita dan pedoman, dengan ajarannya Machiavelli telah melukai perasaan kesusilaan yang tinggi dari banyak orang.
Pendapat berbeda lainnya dari pemikir Van Mohl, Ranke dan Macaulay yang mengatakan bahwa perlu ada penafsiran dan alam pemikiran yang berbeda tentang ajaran Machiavelli, sebab machiavelii menghendaki hal yang baik, bukan yang jahat, sesungguhnya kejahatan yang ada dalam seorang raja hanyalah alat atau sarana dan bukan tujuan. Tujuan yang sesungguhnya adalah kebaikan dan kemakmuran bersama.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Jika Anda Menyukai Artikel Ini, Silahkan Komentari Dengan Sopan dan Santun :

Jika Anda Menyukai Artikel Ini Mohon Klik LIke Di Bawah Ini :

komentar: