contoh laporan pemantapan kemampuan profesional

Diposkan oleh Andri Ansyah on Senin, 09 Juli 2012

I.  PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan adalah upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dimana setiap warga Negara berhak atas pendidikan itu. Dengan adanya pendidikan maka manusia dapat memperkaya diri dan mencapai taraf kebudayaan yang lebih tinggi, sehingga masing-masing manusia akan mengalami banyak perkembangan di berbagai bidang kehidupan.
Pendidikan Sekolah Dasar bukan hanya memberikan bekal kemampuan intlektual, dasar dalam membaca, menulis dan berhitung saja melainkan juga berbagai proses pengembangan kemapuan dasar peserta didik secara optimal dalam segala aspek.
Beberapa hal yang berpengaruh bagi peserta didik diantaranya sarana-prasarana, motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran, serta profesionalisme guru, semangat siswa belajar terkadang menurun sehingga terkadang proses pembelajaran menjadi kurang menarik terutama pada jam-jam pelajaran terakhir.
Mata pelajaran Matematika merupakan salah satu mata pelajaran utama eksak dan Pelajaran IPS sebagai salah satu mata pelajaran utama Non-eksak di sekolah dasar. Pembelajaran mata pelajaran ini biasa diajarkan secara konvensional hampir di setiap sekolah dasar, dengan metode klasik ceramah sehingga menciptakan kejenuhan dalam lingkungan belajar, dikarenakan siswa hanya cenderung mendengar dan mendengarkan. Dan hal tersebut menyebabkan kurangnya pemahaman siswa terhadap suatu materi ajar.
Berkaitan dengan motivasi belajar siswa dalam proses pembelajaran, ketika proses pembelajaran yang terjadi di kelas pada jam pelajaran terakhir, penulis menemukan ada siswa yang kelihatan pasif seperti tidak ada gairah belajar, sulit memahami pelajaran yang sedang diikuti bahkan ada yang sibuk dengan hal lain. Keadaan tersebut menyebabkan rendahnya kemampuan menguasai materi pembelajaran.
Setelah guru melakukan pengamatan di dalam kelas V dan refleksi pembelajaran yang telah dilakukan salah satu penyebab rendahnya pencapaian KKM siswa kemungkinan adalah metode pembelajaran yang dilakukan tidak mengaktifkan siswa. Oleh karena itu penulis berupaya meningkatkan aktivitas belajar siswa yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode pembelajaran Demonstrasi.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan analisis masalah, rumusan masalah yang menjadi fokus perbaikan dan penelitian adalah :”Bagaimana upaya meningkatkan prestasi belajar siswa Mata Pelajaran Matematika dan IPS Menggunakan Metode Demonstrasi  di Kelas V SD Negeri 2 Sukajaya”

C.   Tujuan Perbaikan
1. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode demonstrasi dalam Mata Pelajaran Matematika dan IPS dapat meningkatkan Prestasi belajar siswa kelas V di SD Negeri 2 Sukajaya.
2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode Demonstrasi dalam Mata Pelajaran Matematika dan IPS dapat meningkatkan Prestasi belajar siswa kelas V di SD Negeri 2 Sukajaya.
3. Untuk mendeskripsikan penggunaan demonstrasi dalam upaya meningkatkan aktivitas dan Prestasi belajar siswa di kelas V SD Negeri 2 Sukajaya

D. Manfaat Perbaikan
1. Bagi Siswa
a. Dapat meningkatkan minat dan aktifitas belajar siswa
b. Menambah tingkat penguasaan materi pelajaran dari sebelumnya
2. Bagi Guru
a. Dapat meningkatkan profesionalisme guru dalam proses belajar mengajar
b. Dapat merefleksi kegiatan belajar mengajar
3. Bagi Sekolah
a. Dapat meningkatkan mutu dan keberhasilan sekolah
b. Membawa nama baik sekolah


II.                KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran IPS di SD
Pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagai proses psikologis-pedagogis yang ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang disengaja diciptakan.
Menurut Winaputra U. S at al (2008), tentang pendidikan IPS tidak bisa dilepaskan dari interaksi fungsional perkembangan masyarakat Indonesia dengan system dan praktisi pendidikannya. Jika dilihat secara analitik, praktis pendidikan IPS dalam kehidupan masyarakat bangsa Negara Indonesia yang sedang dalam proses pertumbuhan dengan segala krisis yang dialaminya, menunjukkan suatu bidang permasalahan yang utuh, menyeluruh, dan multi-dimensional. Di situ ada konstribusi pengalaman sejarah, kondisi objektif alam, social, ekonomi, politik, budaya, dan pengaruh dunia luar sebagai dampak dari kehidupan yang semakin mendunia. Oleh karena itu, pendekatan yang perlu digunakan dalam pengkajian pendidikan IPS adalah pendekatan holistic sebagai pendekatan yang menuntut kearifan intuisi dan bersifat ekologis. Tentu saja kaidah-kaidah keilmuan pada tataran epistomologi harus tetap menjadi rujukan konseptual. Dengan demikian, kajian pendidikan IPS tidak bisa tidak harus merupakan suatu kerangka konseptual sistematik atau integrated system of knowledge (pengetahuan yang terintgrade), synthetic discipline (disiplin) serta multi-dimensional.
Menurut Piaget dan Vygotsky dalam Slameto (1995) pada proses pembelajaran siswa diharapkan mampu membangun pemahamannya sendiri. Hal senada dikemukakan oleh Eusta Supono (2004) bahwa titik pembelajaran bukan lagi teori tetapi praktik sehingga siswa mampu merumuskan pemahamannya sendiri dan guru cukup membimbing dan membantu.
Hamijoyo dalam Suprayekti et al (2008) mengemukakan inovasi pendidikan adalah suatu perubahan yang baru dan kualitatif berbeda dari hal yang ada sebelumnya serta sengaja diusahkan untuk meningkatkan kemampuan guna mencapai tujuan tertentu dalam pendidikan. Seiring dengan pendapat Ibrahim dalam Suprayekti et al (2008), mendefinisikan inovasi pendidikan adalah inovasi (pembaruan) dalam bidang pendidikan atau inovasi yang dilakukan untuk memecahkan masalah pendidikan. Inovasi pendidikan merupakan suatu ide, barang, metode yang dirasakan atau diamati sebagai hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat) baik berupa hasil inverse atau diskoversi yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan atau memecahkan masalah-masalah pendidikan.
Cara guru mengajar yang menarik, menantang siswa berfikir dan berperan aktif akan mempengaruhi motivasi siswa secara positif. Hamalik O. (1995) menyebutkan pembelajaran sebagai suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusia, material, fasilitas, perlengkapan dan prosedur yang saling mempengaruhi untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan uraian diatas, penulis mencoba untuk menggunakan model pembelajaran make a match untuk memotivasi siswa yang bertujuan untuk meningkatkan aktifitas belajar, hasil belajar dan pemahaman siswa pada pelajaran IPS dengan pokok bahasan Jenis Pekerjaan.
B.     Metode Demonstrasi
Metode adalah cara yang teratur dan terpikir baik untuk mencapai sesuatu maksud dalam ilmu pengetahuan.
Metode mengajar merupakan cara yang digunakan guru dalam membelajarkan siswa agar terjadi interaksi dan proses belajar yang efektif dalam pembelajaran.
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai penjelasan lisan (Djamarah, 2006 : 90).

a.       Langkah-langkah Metode Demonstrasi
1) Persiapan
-          Menciptakan kondisi belajar siswa untuk melakukan demonstrasi
-          Menyediakan alat-alat yang akan didemonstrasikan
-          Mengatur tempat duduk siswa
2) Pelaksanaan
-        Mengajukan masalah kepada siswa tentang hal / materi yang akan didemonstrasikan dengan ceramah.
-          Menjelaskan dan mendemonstrasikan dengan prosedur atau proses.
-          Siswa mengamati / mengikuti pelaksanaan demonstrasi dengan baik.
-          Memberikan penjelasan secara singkat dan padat pada saat mendemonstrasikan materi.
-          Mengadakan tanya jawab pada siswa.
3)       Evaluasi / tindak lanjut
-          Memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan / mendemonstrasikan materi sendiri / berkelompok.
-          Membuat kesimpulan hasil demonstrasi
-          Mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada siswa.
                      ( Djamarah, 2006 : 101).
b.       Kelebihan Metode Demonstrasi
-          Dapat membuat pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret, sehingga terhindar pemahaman yang verbalisme.
-          Siswa lebih mudah memahami apa yang dipelajari
-          Proses pengajaran lebih menarik
-          Siswa dirangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan, dan mencoba melakukan sendiri. ( Djamarah, 2006:91).

C.    Hasil Belajar
Penilaian hasil belajar merupakan aktivitas yang sangat penting dalam proses pendidikan. Semua proses di lembaga pendidikan formal pada akhirnya akan bermuara pada hasil belajar yang diwujudkan secara kuantitatif berupa nilai.
Begitu pula, bahwa belajar sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar. Karena prestasi itu sendiri, merupakan hasil belajar itu biasanya dinyatakan dengan nilai. Menurut Winarno (1997), sebagai berikut “Prestasi belajar adalah hasil dimana guru melihat bentuk akhir dari pengalaman interaksi edukatif yang diperhatikan adalah menempatkan tingkah laku”.
Hasil belajar siswa diperoleh dari interaksi siswa dengan lingkungan yang sengaja direncanakan oleh guru dalam kegiatan pembelajaran. Mengajar tidak hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran dari guru kepada siswa, akan tetapi merupakan seluruh kegiatan dan tindakan yang diupayakan oleh guru untuk terjadinya proses belajar sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan.


Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi belajar di antaranya faktor guru, siswa, kurikulum, dan lingkungan.
a.        Faktor guru
Guru merupakan faktor utama keberhasilan tercapainya pembelajaran Guru harus memiliki keterampilan mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, memanfaatkan metode, menggunakan media, dan dapat mengalokasikan waktu dengan tepat.
Keterampilan mengajar tersebut di antaranya:
1)      Keterampilan membuka pelajaran
2)      Keterampilan menutup pelajaran
3)      Keterampilan menjelaskan
4)      Keterampilan mengelola kelas
5)      Keterampilan bertanya
6)      Keterampilan memberikan penguatan
b.      Faktor siswa
Di dalam pembelajaran, peserta didik adalah subyek yang akan mencapai tujuan pembelajaran, bukanlah obyek pembelajaran. Faktor yang berpengaruh di antaranya tingkat kecerdasan, gaya belajar, keadaan fisik, dan keadaan mental/psikis.
c.       Faktor lingkungan
Lingkungan dapat berupa lingkungan fisik (kelas, laboratorium, perpustakaan) dan nonfisik (suasana belajar, cahaya, ventilasi). Kedua lingkungan itu harus dimanfaatkan secara optimal agar pembelajaran menjadi efektif dan efisien. Lingkungan fisik dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang direncanakan, sedangkan lingkungan nonfisik digunakan untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman dan kondusif.
Dari segi alatnya, penilaian hasil belajar dapat dibedakan menjadi (a) tes dan (b) bukan tes (nontes). Tes bisa terdiri atas tes lisan (menuntut jawaban secara lisan), tes tulisan (menuntut jawaban secara tulisan), dan tes tindakan (menuntut jawaban dalam bentuk perbuatan). Soal-soal tes ada yang disusun dalam bentuk (a) objektif, ada juga yang disusun dalam bentuk (b) esai atau uraian. Sedangkan bukan tes sebagai alat penilaian mencakup observasi, kuesioner, wawancara, skala penilaian, sosiometri, studi kasus, dan lain-lain. Tes hasil belajar ada yang sudah dibakukan (standardized test), ada pula yang dibuat guru, yakni tes yang tidak baku. Pada umumnya penilaian hasil belajar di sekolah menggunakan tes buatan guru untuk semua bidang studi/mata pelajaran. Tes baku, sekalipun lebih baik dari pada tes buatan guru, masih sangat langka sebab membuat tes baku memerlukan beberapa kali percobaan dan analisis dari segi reliabilitas dan validitasnya.
Dilihat dari objek yang dinilai atau penyajian tes ada yang bersifat individual dan ada tes yang bersifat kelompok. Tujuan dari penilaian hasil belajar adalah untuk :
a.       Mendeskripsikan kecakapan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya. Dengan pendeskripsian kecakapan tersebut dapat diketahui pula posisi kemampuan siswa dibandingkan dengan siswa lainnya

b.      Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pembelajaran disekolah, dalam aspek intelektual, sosial, emosional, moral, dan ketrampilan yakni seberapa jauh keefektifannya dalam mengubah tingkah laku para siswa ke arah tujuan pendidikan yang diharapkan.

c.       Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pembelajaran serta strategi pelaksanaannya.

d.      Memberikan pertanggungjawaban (accountability) dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan para orang tua siswa. Dalam mempertanggungjawabkan hasil-hasil yang telah dicapainya, sekolah memberikan laporan berbagai kekuatan dan kelemahan pelaksanaan sistem pendidikan serta kendala yang dihadapinya.


III. PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN


A. Subjek Penelitian
Perbaikan pembelajaran dengan metode demonstrasi mata pelajaran IPS yang dilaksanakan di kelas V SD Negeri 2 Sukajaya Kec. Kedondong Kab. Pesawaran  dengan jumlah siswa 23 orang, terdiri dari laki-laki 11 orang dan perempuan 12 orang, dengan jadwal sebagai berikut :

NO
HARI / TANGGAL
SIKLUS
POKOK BAHASAN
1
JUMAT, 27 APRIL 2012
I
Perjuangan menuju kemerdekaan
2
RABU, 3 MEI 2012
II
Perjuangan menuju kemerdekaan
3
SABTU, 10 MEI 2012
III
Perjuangan menuju kemerdekaan


B. Deskripsi Per Siklus
a.       Siklus I
a.       Rencana
Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus I, menyiapkan sistematika laporan siklus I.
b.      Pelaksanaan
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus I ini , di kegiatan awal guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan awal siswa yang dapat dikaitkan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran kepada siswa. Kemudian di kegiatan inti guru menjelaskan materi tentang perjuangan menuju kemerdekaan. Dan di kegiatan akhir guru memberikan latihan soal kepada siswa secara individu.
c.       Pengamatan
Setelah perbaikan pembelajaran siklus I dilaksanakan, diadakanlah diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang telah dilakukan bersama menunjukkan hasil yang belum sesuai dengan yang diharapkan.
d.      Refleksi
Berdasarkan tidak optimalnya pembelajaran siklus I yang didapat dari hasil diskusi bersama teman sejawat, maka peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus II.


b.      Siklus II
a.       Rencana
Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus II, menyiapkan sistematika laporan siklus II, menyiapkan gambar-gambar tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan.
b.      Pelaksanaan
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus II ini, di awal pertemuan guru memotivasi siswa dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa yang berkaitan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan tujuan pembelajaran. Di kegiatan inti, guru menjelaskan materi pelajaran sambil memperlihatkan gambar tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan. Kemudian guru melakukan tanya jawab tentang materi. Dan di kegiatan akhir guru dan siswa membuat rangkuman tentang materi. Kemudian memberikan latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan secara individu.
c.       Pengamatan
Setelah perbaikan pembelajaran siklus II dilaksanakan, diadakanlah diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang telah dilakukan bersama menunjukkan hasil yang lebih baik dari siklus I namun masih belum seperti yang diharapkan.
d.      Refleksi
Berdasarkan penyebab tidak optimalnya pembelajaran siklus II dan hasil diskusi bersama teman sejawat, maka peneliti perlu melaksanakan perbaikan pembelajaran siklus III.

c.       Siklus III
a.       Rencana
Menyusun rencana perbaikan pembelajaran siklus III, menyiapkan sistematika laporan siklus III, menyiapkan gambar-gambar para pahlawan tokoh-tokoh pejuang pergerakan kemerdekaan Indonesia.
b.      Pelaksanaan
Pada pelaksanaan perbaikan pembelajaran siklus III ini di awal pertemuan, guru memotivasi siswa dengan menunjukkan gambar dan memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk menggali pengetahuan siswa yang berkaitan dengan materi. Setelah itu guru menyampaikan kompetensi dasar dan indikator pembelajaran. Di kegiatan inti, guru menjelaskan materi pelajaran sambil memperlihatkan gambar para pahlawan, menjelaskan jasa dan peran tokoh dalam mempersiapkan kemerdekaan Indonesia. Di kegiatan akhir guru dan siswa merangkum materi pembelajaran dan kemudian memberikan latihan soal kepada siswa untuk dikerjakan secara individu.
c.       Pengamatan
Sesudah perbaikan pembelajaran siklus III dilaksanakan diadakan diskusi dengan teman sejawat, dari pengamatan yang dilakukan bersama menunjukkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan.
d.      Refleksi
Berdasarkan pengamatan bersama teman sejawat tentang perbaikan pembelajaran siklus III maka hasil refleksi dijadikan sebagai bahan laporan penelitian tindakan kelas.

Jika Anda Menyukai Artikel Ini Mohon Klik LIke Di Bawah Ini :

komentar: